BUDIDAYA ROSELLA MERAH SEBAGAI MAKANAN TAMBAHAN (PKMM)

PKM M

JUDUL
BUDIDAYA ROSELLA MERAH (Hibiscus sabdariffa) SEBAGAI MAKANAN TAMBAHAN YANG BERGIZI TINGGI DAN APOTEK HIDUP DI PEKARANGAN RUMAH

LATAR BELAKANG MASALAH
Berdasarkan data yang diperoleh dari FAO menujukkan bahwa kebanyakan penduduk di negara-negara sedang berkembang di Asia Tenggara dan di seluruh dunia berkecimpung di dunia pertanian. Pada hakikatnya lebih dari 40 % dari seluruh penduduk di bumi tinggal di daerah pedesaan negara-negara sedang berkembang. Hampir semuanya bermata pencaharian bertani, kebanyakan miskin, sejumlah besar tanpa lahan dan banyak yang menderita kurang pangan (Suhardjo, 1986:8).


Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berkembang, sebagian penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Seiring dengan perkembangan zaman dan pertumbuhan penduduk yang pesat, banyak lahan pertanian yang diubah menjadi perumahan, perkantoran, dan kawasan industri lainnya. Hal ini menyebabkan semakin sempitnya lahan pertanian, padahal kebutuhan akan bahan makanan tambahan sebagai sumber energi meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Setiap tahun jumlah penduduk yang kekurangan bahan pangan semakin besar jumlahnya. Akibatnya, banyak memunculkan berbagai masalah diantaranya masalah kurang pangan dan gizi buruk di masyarakat.
Pertanian pada dasarnya tidak harus diusahakan dalam lahan yang luas, tetapi dengan memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah atau yang biasa disebut dengan pekarangan, pertanian dapat diusahakan. Pada peringatan hari pangan sedunia ke-25 tingkat nasional di Cisawuk, Tangerang tangal 16 Oktober 2005 menteri pertanian Anton Apriyanto, mencanangkan gerakan pemanfaatan pekarangan karena potensi pekarangan di Indonesia secara umum belum dikelola secara maksimal (BKKBN 2005). Untuk itu, pekarangan sebisa mungkin digunakan untuk menanam tanaman yang mudah dibudidayakan dan bermanfaat, diantaranya sebagai bahan makanan tambahan dan apotek hidup guna meningkatkan pendapatan dan perbaikan gizi keluarga. Pemanfaatan pekarangan dilakukan dengan membudidayakan tanaman. Salah satu tanaman yang memiliki kriteria seperti itu adalah rosella merah (Hibiscus sabdariffa).
Setiap bagian dari Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) mengandung zat-zat yang bermanfaat bagi manusia. Menurut pakar makanan, Rosella Merah mengandung kalsium, niasin, riboflavin, dan zat besi. Pada tiap 100 gram rosella merah mangandung 260-280 mg vitamin C, vitamin D, B1 dan B2. kandungan vitamin C rosella merah 3 kali lipat dari anggur hitam, 9 kali lipat dari jeruk sitrus, 10 kali lipat lebih besar dari buah belimbing (Agro Perindag 2004).
Secara umum manfaat dan khasiat dari Rosella Merah adalah memperlancar peredaran darah, mencegah tekanan darah tinggi, meningkatkan kinerja usus, mengandung vitamin C kadar tinggi yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia terhadap serangan penyakit, mengandung kalsium kadar tinggi yang dapat mengurangi resiko osteoperosis dan membantu pertumbuhan tulang, mencegah peradangan pada saluran kencing dan pembentukkan batu ginjal.
Pembudidayaan rosella merah di Indonesia masih terpusat di daerah-daerah tertentu padahal pembudidayaannya mudah dilakukan. Di Jawa Timur rosella merah banyak dibudidayakan di daerah Blitar. Sedangkan, di Kediri budidaya rosella merah masih terpusat di Kecamatan Semen, untuk kecamatan lainnya masih belum ada. Oleh karena itu, diperlukan pengenalan atau sosialisasi khususnya pembudidayaan rosella merah sebagai bahan pangan baru dan apotik hidup.
Dari pernyataan diatas, maka kami mengenalkan pembudidayaan rosella merah (Hibiscus sabdariffa) sebagai bahan makanan tambahan dan apotek hidup serta penerapannya di Desa Setonorejo, Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri. Pada umumnya, desa ini memiliki potensi besar untuk pengembangan pembudidayaan rosella merah (Hibiscus sabdariffa) karena sebagian besar penduduknya memiliki pekarangan di sekitar rumah yang belum dimanfaatkan secara maksilmal. Dengan adanya penyosilisasian tentang pembudidayaan rosella diharapkan dapat memberikan semangat baru kepada masyarakat desa untuk menanam rosella di pekarangan rumah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan baru dan apotik hidup sekaligus sebagai tanaman hias serta dapat menambah pendapatan keluarga. Selain itu, diharapkan masyarakat dapat belajar bahwa untuk sehat tidak harus mahal, masyarakat bisa mengusahakan sendiri dengan menanam rosella merah di pekarangan rumah yang terkenal sebagai obat penyembuh berbagai penyakit.

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan urain pada latar belakang dan telaah studi pustaka. Secara umum dapat dirumuskan ”bagaimanakah mengenalkan teknik budidaya tanaman rosella merah (Hibiscus sabdariffa) sebagai bahan pangan baru dan apotek hidup.” Rumusan masalah tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut
1. Bagaimana cara mengenalkan rosella merah (Hibiscus sabdariffa) sebagai bahan pangan baru dan apotek hidup?
2. Bagaimana cara memanfaatkan rosella merah (Hibiscus sabdariffa)?
3. Bagaimana teknik budidaya rosella merah (Hibiscus sabdariffa)?

TUJUAN PROGRAM
Program ini merupakan salah satu wujud pengembangan mahasiswa dalam upaya meningkatkan kreativitas dalam bidang pengabdian masyarakat. Tujuan umum program ini adalah:
Menjelaskan cara mengenalkan rosella merah (Hibiscus sabdariffa) sebagai bahan pangan baru dan apotek hidup.
Menjelaskan cara memanfaatkan rosella merah (Hibiscus sabdariffa).
Menjelaskan teknik budidaya rosella merah.

LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran program ini berupa praktek teknik budidaya Rosella Merah di pekarangan rumah penduduk Desa Setonorejo Kec. Kras Kab. Kediri, dari sini diharapkan masyarakat mampu memaksimalkan pemanfaatan pekarangan rumah dan mengembangkan pendapatan serta rosella merah sebagai bahan makanan tambahan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan kandungannya dapat memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Disamping itu, luaran lain yang diharapkan adalah buku petunjuk teknik budidaya rosella merah yang disajikan secara praktis dan mudah untuk dipahami oleh semua masyarakat Desa Setonorejo.

KEGUNAAN PROGRAM
4. Bagi Mahasiswa/Perguruan Tinggi
a. Pengenalan cara pembudidayaan dapat digunakan oleh mahasiswa media pembelajaran dalam bersosialisasi kepada masyarakat luar khususnya masyarakat di desa Setonorejo, kecamatan Kras, kabupaten Kediri.
b. Dapat mengembangkan ide-ide kreatif mahasiswa yang diwujudkan dalam suatu kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat khususnya masyarakat di desa Setonorejo, kecamatan Kras, kabupaten Kediri.
5. Bagi masyarakat
a. Pengenalan cara budidaya tanaman rosella merah di desa Setonorejo, kecamatan Kras, kabupaten Kediri dapat menambah pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang rosella merah dan cara budidayanya.
b. Pengenalan rosella merah memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa rosella merah dapat menjadi salah satu alternatif tanaman yang dapat digunakan sebagai bahan pangan baru yang mempunyai nilai gizi tinggi dan apotek hidup untuk mencegah dan mengobati berbagai penyakit baik penyakit ringan maupun berat tanpa mengeluarkan biaya yang mahal.
c. Pengenalan cara budidaya tanaman rosella merah merupakan langkah awal untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di desa Setonorejo, kecamatan Kras, kabupaten Kediri.
6. Bagi Pemerintah
a. Membantu pemerintah dalam memberikan informasi baru tentang cara budidaya tanaman rosella merah kepada masyarakat desa Setonorejo, kecamatan Kras, kabupaten Kediri.
b. Menjadi langkah awal pengembangan rosella merah sebagai komoditas utama kabupaten Kediri yang dapat meningkatkan pendapatan daerah.
c. Membantu pemerintah dalam membudidayakan tanaman rosella merah yang merupakan bahan pangan baru yang memiliki nilai gizi tinggi, dan berfungsi sebagai apotek hidup yang dapat mencegah dan mengobati berbagai jenis penyakit

GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
1. Kondisi Umum Kabupaten Kediri
Kabupaten Kediri adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Kediri. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Jombang di utara, Kabupaten Malang di timur, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung di selatan, Kabupaten Madiun dan Kabupaten Ponorogo di barat, serta Kabupaten Nganjuk di barat dan utara. Kabupaten Kediri terdiri atas 23 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Ibukota kabupaten ini adalah Kediri, namun kini pusat pemerintahan mulai dipindahkan secara bertahap ke kecamatan Pare.
Kabupaten Kediri memiliki luas daratan 1.386,05 Km2, yang meliputi tanah pemukiman seluas 301,89 km2, persawahan 504,66 km2, pertanian tanah kering 292,38 km2, kawasan hutan produktif 0,13 km2, kolam/tambak 0,09 km2, sedangkan penggunaan untuk yang lain-lainnya seluas 128,56 km2. Bila melihat dari luas areal diatas, tanah persawahan merupakan tanah yang banyak diusahakan oleh penduduk, khususnya penduduk yang bermukim di daerah pedesaan.Tanah persawahannya tidak hanya diusahakan untuk padi, melainkan juga pertanian tebu dan palawija bila musim kemarau tiba.
Kabupaten Kediri merupakan wilayah dengan topografi yang berupa pegunungan, perbukitan dan dataran rendah.  Letak ketinggian tempat umumnya berada pada ketinggian antara 25 meter sampai dengan 2.300 meter diatas permukaan laut ( dpl ).
Karakteristik Wilayah Kabupaten Kediri menurut kondisi geologi dibagi menjadi tiga daerah,yaitu bagian barat dan timur merupakan daerah yang kurang subur. Sedangkan bagian tengah merupakan dataran rendah yang sangat subur karena dilintasi sungai Brantas. Wilayah kab. Kediri termasuk beriklim tropis dengan curah hujan 1500 mm sampai 2500 mm per tahun dengan suhu udara antara 280 sampai 300 C . Memiliki perairan umum berupa sungai dan bendungan (Kediri Online 2005 ).
Kabupaten Kediri memiliki kondisi lingkungan strategis yang dinamis maupun statis memberikan peluang maupun tantangan yang perlu disikapi dengan cermat dalam pembangunan pertanian tanaman pangan ke depan baik perumusan program maupun pelaksanaannya. Tanaman rosella sangat cocok ditanam di daerah tropik dengan curah hujan sedang karena tamaman ini tidak memerlukan banyak air untuk tumbuh namun membutuhkan intensitas cahaya matahari yang cukup. Di Kediri budidaya rosella merah (Hibiscus Sabdariffa) banyak dibudidayakan di daerah bagian utara antara lain yaitu daerah Semen, namun untuk daerah Kediri bagian selatan pembudidayannya masih belum ada. Hal ini disebabkan keterbatasan pengetahuan masyarakat tentang rosella dan budidayanya, padahal usaha tani rosella ini memiliki peluang yang bagus jika di budidayakan di daerah tersebut. Daerah Kediri bagian selatan tanahnya subur, cocok untuk ditanami berbagai jenis tanaman termasuk jenis rosella merah.

2. Kondisi Umum Desa Setonorejo
Desa Setonorejo adalah salah satu wilayah di Kecamatan Kras, Kabupaten Kediri, Propinsi Jawa Timur yang merupakan wilayah Kabupaten Kediri paling selatan dan merupakan daerah perbatasan antara Kabupaten Kediri, Blitar, dan Tulungagung. Jumlah penduduknya berdasarkan data yang di peroleh dari wawancara pejabat desa yang terkait bulan Agustus 2007 adalah sekitar 2.884 jiwa, terdiri dari 1533 jiwa laki-laki dan 1351 wanita yang terdiri dari anak-anak, dewasa, dan manula.Terdiri dari 680 kepala keluarga.Batas wilayah Desa Setonorejo adalah sebagai berikut:
- Sebelah Selatan : Desa Njanten Kabupaten Blitar dan Desa Ngaderjo Kabupaten Tulungagung.
- Sebelah Utara : Desa Rejomulyo Kras
- Sebelah Timur : Desa Pelas Kras
- Sebelah Barat : Desa Rejomulyo Kras dan Desa Ngaderjo Tulungagung.
Desa Setonorejo termasuk daerah dataran rendah dengan luas wilayah sekitar 243 ha. Dengan perincian, sekitar 140 ha terdiri dari tanah persawahan dan sisanya yaitu sekitar 103 ha terdiri dari rumah dan pekarangan. Desa ini terdiri dari 2 wilayah dusun yaitu, Dusun Demangan dan Dusun Setonorejo dengan perbandingan luas wilayah sekitar 48:52. Mata Pencaharian utama penduduknya adalah bertani dengan tingkat prosentasi sebesar 75% terdiri dari buruh tani dan petani yang memiliki sawah sendiri, sisanya bermata pencaharian sebagai pedagang, pegawai negeri sipil,dan beternak serta berwirausaha. Usaha tani yang banyak diusahakan di daerah ini adalah bertani tebu, hampir seluruh wilayah pertaniannya banyak ditanami tebu, sisanya ditanami tanaman jagung, paliwija seperti kacang-kacangan dan sayuran. Sedangkan potensi lain yang dimiliki desa ini adalah produksi emping melinjo. Untuk tanah pekarangan penduduk rata-rata tanah pekarangannya belum di manfaatkan secara maksimal. Hampir seluruh penduduknya memiliki lahan pekarangan yang luas, biasanya halaman ini banyak di tanami pohon pisang yang dibiarkan tumbuh begitu saja di sekitar halaman rumah. Jika lahan pekarangan milik warga di kelola dengan baik maka tidak menutup kemungkinan akan memberi manfaat lebih utamanya sebagai penyedia tambahan makan dan gizi bagi keluarga. Jenis tanah di Desa Setonorejo termasuk jenis tanah yang subur, berbagai jenis tanaman yang ditanam di tanah ini akan tumbuh subur.
Fasilitas umum di Desa Setonorejo sudah lumayan baik, seperti jaringan komunikasi, listrik, dan sekolah serta transportasinya. (1) Jaringan komunikasi, di setiap dusun sudah ada warung komunikasinya (wartel), sebagian kecil penduduk sudah memasang telepon di rumah bahkan 35% penduduknya sudah memiliki jaringan komunikasi seluler berupa telepon genggam (HP), (2) listrik, Hampir seluruh rumah penduduk penerangan dan kegiatanya tidak dapat dipisahkan dari penggunaan listrik. Di sepanjang jalan sudah banyak menggunakan penerangan dari listrik, (3) sekolah, terdapat 2 sekolah dasar, 1 sekolah menengah atas pertama, dan 1 sekolah menengah umum. (4) Transportasi, hampir setiap penduduk memiliki alat transportasi berupa sepeda dan motor. Angkutan pedesaan yang menghubungkan desa satu ke desa yang lainnya sudah ada tapi lumayan jarang, serta di desa ini hanya ada satu jalan utama yang menghubungkan desa ini ke desa yang lainnya dan selebihnya masih belum di aspal.
Meskipun desa ini sudah lumayan baik fasilitasnya, desa ini masuk dalam katagori Impres Desa Tertinggal (IDT). Ini mungkin dilihat dari keadaan sosial ekonomi masyarakat yang penghasilan rata-ratanya sekitar Rp 450.000,00- Rp 750.000,00 dan rata-rata masyarakatnya sekitar 50% hanya lulusan sekolah dasar, padahal pendidikan merupakan salah satu faktor yang penting dalam era pembangunan sekarang. Sebab, faktor ini pada dasarnya mencerminkan kemajuan desa yan bersangkutan. Dengan adanya program ini diharapkan masyarakat mendapatkan tambahan pengetahuan baru tentang budidaya tanaman rosella merah dan dapat memanfaatkan tanaman ini sebagai tanaman pekarangan yang dapat menjadi bahan pangan baru, pemenuhan sumber gizi, dan apotek hidup serta dapat menambah penghasilan keluarga.

METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Metode pelaksanaan program termasuk kategori pengembangan dari teknik budidaya yang sudah ada. Melalui model prosedural yaitu bersifat deskriptif untuk mengenalkan budidaya rosella merah yang efisien. Lokasinya dilaksanakan di balai desa Setonorejo dan di pekarangan salah satu penduduk yang disewa.
1. Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk mempelajari dasar teori yang berhubungan dengan topik pembahasan yaitu hal-hal yang berhubungan dengan pemanfaatan pekarangan, rosella merah, produk , dan teknik budidayanya.
1.1 Pemanfaatan Lahan Pekarangan
Pekarangan adalah sebidang tanah disekitar rumah yang mudah diusahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga. Pekarangan sering disebut sebagai lumbung hidup, warung hidup atau apotik hidup (Deptan 2002).
Pekarangan merupakan perpaduan pertanian yang melibatkan peran manusia dengan ekosistemnya. Secara ekologis, pekarangan dengan struktur tanaman yang tingginya berjenjang dan beraneka jenisnya, mulai dari jenis tanaman keras dengan ketinggian yang menjulang, sampai dengan tanaman perdu dan sejenis rerumputan, bukan saja akan mampu mengoptimalkan penggunaan energi matahari, melainkan juga melindungi tanah dari erosi oleh guyuran air hujan.
Dengan demikian, berbagai jenis tanaman memungkinkan tumbuh berdampingan, dan kesuburan tanah serta tata air tetap terjaga. Di samping itu, dalam pekarangan juga terjadi sistem daur ulang yang sangat baik. Dedaunan yang jatuh, sampah-sampah organik sisa rumah tangga, serta kotoran hewan ternak merupakan sumber daya yang baik bagi pertumbuhan tanaman pekarangan. Sebaliknya, dedaunan dan rerumputan segar merupakan sumber daya yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Sebagai lumbung pangan, pekarangan mempunyai peranan yang besar sebagai penopang ketahanan pangan. Masyarakat zaman dulu memanfaatkan pekarangan sebagai lumbung pangan dengan menanam umbi- umbian yang tahan bertahun-tahun dan adaptif dengan segala musim dan cuaca, semacam suweg, iles-iles, ketela, gadung, ganyong, jelarut (garut), dan sebagainya. Tanaman jenis ini untuk dapat dipanen rata-rata memerlukan waktu yang cukup lama. Namun, ketika tidak menginginkan memanennya, kita tetap dapat membiarkannya dalam tanah pekarangan. Pada musim penghujan, tanaman akan tumbuh dengan tunas-tunas baru, memunculkan tumbuhan baru, dan tentunya dengan pertumbuhan umbi yang semakin besar. Dan pada musim kemarau, daun-daun tanaman ini akan mengering. Namun, umbi tanaman tetap dalam kondisi “hidup” dan siap memunculkan tunas dan tumbuhan baru saat musim hujan tiba.
Jadi, berbagai jenis tanaman tersebut dapat dijadikan sumber pangan alternatif ketika paceklik, gagal panen, atau akibat sebuah kebijakan yang menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh bahan pangan pokok. Dengan kata lain, pekarangan mempunyai fungsi ekonomi yang cukup strategis yang hasilnya dapat dipanen sewaktu-waktu jika dibutuhkan, dan menjadi salah satu bentuk jaminan ketahanan pangan masyarakat pedesaan.
Di samping itu, di pekarangan dapat ditanami dengan aneka buah-buahan dan sayuran sebagai sumber gizi keluarga yang murah. Tingkat konsumsi Indonesia yang kaya akan dua komoditas ini rata-rata baru mencapai 40 persen. Sedangkan, di desa sebagai kawasan yang banyak memproduksi sayuran dan buah-buahan tingkat konsumsi masyarakatnya terhadap komoditas ini masih sangat rendah bila dibandingkan dengan di kota (Djoen 2006).
Selanjutnya, pekarangan juga dapat dioptimalkan pemanfaatannya dengan tanaman apotek hidup atau tanaman obat keluarga (toga) yang memudahkan kita memperoleh obat alami. Tanaman obat sekaligus sebagai bumbu dapur sejenis empon-empon, semacam jahe, kencur, lengkuas, kunyit, juga tanaman sirih, cabe, kapulaga, dan sebagainya dapat menjadi pilihan. Manfaatnya bukan saja sebagai penghasil obat dan bumbu, melainkan juga akan memberikan suasana asri dan nilai estetika yang tak ternilai.
Memiliki tanah pekarangan yang luas merupakan suatu kebanggaan. Tanah pekaranagn yang luas hampir tidak ada artinya bila tidak dikelolah dengan baik. Padahal sangat banyak yang dapat digali dari tanah pekarangan yang dimiliki. Untuk melakukannya memerlukan pengetahuan yang cukup dan semanagat kerja yang tinggi. Pengertian menggali disini adalah mengolah tanah pekarangan dan dimanfaatkan untuk usaha tani.
Banyak manfaat tanah pekarangan, tetapi yang penting ada 2:
sebagai sumber kebutuhan sehari-hari, terutama kebutuhan pangan seperti sayur-sayuran, buah-buahan, lauk pauk dan obat-obatan.
Sumber tambahan penghasilan, artinya apabila ada kelebihan hasil dari usaha tani di pekarangan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari maka dapat dijual untuk tambahan penghasilan.
MenurutTohir (dalam Varelina 2004 ) menjelaskan bahwa pekarangan merupakan salah satu tambahan sumber makanan, obat-obatan, dan sumber keuangan. Pekarangan di Indonesia masih belum meninggalkan fungsi utamanya, yakni sebagai ”karang sari” dalam arti tetap merupakan sumber dari segala jenis tanaman yang diperlukan untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Bagi penduduk yang serba kekurangan, pekarangan merupakan sumber kehidupan yang cukup tinggi nilainya. Oleh karena itu, dibutuhkan usaha-usaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas jenis tanaman sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing-masing.
Usaha di pekarangan jika dikelola secara intensif sesuai dengan potensi pekarangan, maka disamping dapat melengkapi kebutuhan konsumsi pangan dan gizi keluarga, juga dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi keluarga. Kebijakan yang ditempuh  Pemerintah dalam pelaksanaan pengembangan pemanfaatan pekarangan adalah dalam rangka melengkapi  kebutuhan konsumsi pangan/penyediaan pangan sumber protein, vitamin dan mineral dengan konsumsi yang  beranekaragam dan seimbang bagi masyarakat/keluarga, dan apabila hasilnya berlebih dapat dijual sebagai tambahan  pendapatan keluarga.
Menurut Anonymous (dalam Varelina 2004)Pekarangan sebagai bentuk budidaya atau usaha tani mempunyai kelebihan, antara lain:
Membutuhkan sedikit tenaga
Tidak banyak membutuhkan modal
Mudah dalam pemeliharaannya
Mudah diawasi karena letaknya dekat dengan rumah
Dapat menjaga kelestarian lingkungan atau alam
Untuk dapat memperoleh hasil yang sesuai dengan keinginan, maka dalam memanfaatkan pekarangan hendaknya perlu direncanakan dengan baik usaha apa saja yang akan dilakukan. Salah satu alternatif usaha yang dilakukan adalah dengan budidaya tanaman rosella merah ( Hibiscus sabdariffa ) di pekarangan. Karena dewasa ini banyak orang beralih dari konsumsi produk bahan kimia sebagai obat-obat pribadi kepada bahan alami yang berkhasiat obat.
Penggunaan rosella untuk bahan pangan dan obat perlu dikembangkan, bahan ini akan meningkat permintaannya seiring dengan peningkatan kesadaran masyarakat akan manfaat yang diberikannya. Dengan semakin memasyarakatnya tanaman rosella, maka jenis-jenis usaha yang berkaitan dengan tanaman ini dapat dikembangkan lebih banyak lagi secara intensif sehingga penyerapan tenaga kerja semakin besar.

1.2 Bunga Rosella Merah
1.2.1 Asal-usul Rosella Merah
Tanaman Rosella ( Hibiscus sabdariffa ) berasal darl India, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa tanaman rosella berasal dari Afrika barat. Tumbuhan ini mulai dikembangkan di Indonesia sejak abad ke-19. Di Pulau Jawa, tanaman rosella banyak dibudidayakan di daerah yang banyak dilanda banjir (Rukmana, 2001:10).
1.2.2 Deskripsi tentang Rosella Merah
Rosella adalah tanaman herba semusim yang tumbuh tegak dan termasuk dalam famili malvaceae. Batangnya berbentuk silinder, berwarna merah, dan tingginya bisa mencapai 2 meter. Daun tanaman rosella adalah daun tunggal dengan letak berseling dan berukuran 7,5-12,5 cm, berwarna hijau, dan tulang daun berwarna kemerahan. Daun pertama muncul berbentuk seperti daun biasa kemudian daun akan berbentuk menjari 3-5 atau bahkan 7 buah (Rhoden et al,1993 dalam Varelina, 2004). Macam-macam bentuk daun ditentukan oleh umur daun, makin tua maka jumlah jari makin banyak (Monton1987 dalam Varelina 2004).
Tangkai bunga rosella memiliki panjang 1-2 cm. Bunga diketiak, kebanyakan berdiri sendiri. Daun kelopak terbagi 5 dalam tajuk berbentuk lanset, berdaging tebal, merah tua/kuning muda, dengan tulang daun merah. Daun mahkota bulat telur terbalik, panjang 3-5 cm, kuning pucat dengan noda ungu/kuning cerah pada pangkalnya.
Buah berbentuk telur, berambut jarang, membuka daun 5 katup, dan diselubungi oleh kelopak yang lebih panjang dari buah. Biji berisi 3-4 penuang. Ada 2 jenis rosella yang ditanam, yaitu varietas sabdariffa dengan batang merah, tangkai daun dan bunga dengan warna merah ditengah, ditanam sebagai sayur dan untuk kelopak yang berdaging dapat dimakan. Tanaman rosella memiliki umur produktif maksimal 9 bulan. Varietas Altissima tanpa warna merah, ditanam sebagai tanaman penghasil serat (Steens 2002 dalam Varelina 2004).
1.2.3 Kandungan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa)
Setiap bagian dari Rosella merah (Hibiscus sabdariffa) mengandung zat-zat yang bermanfaat bagi manusia. Menurut pakar makanan, rosella merah menmgandung kalsium, niasin, riboflavin, dan zat besi. Hal ini dapat dilihat dari zat yang terkandung pada 100 gram rosella merah yang dikonsumsi, diantaranya:
kandungan gizi pada kelopak bunga segar rosella merah
-     Protein             1,145   gr
-     Lemak              2,61    gr
-     Serat                12        gr
-     KaLsium          1,263   gr
-     Fosfor              273.2   mg
-     Zat besi            8,98     mg
-     MaLic Acid      3,31     %
-     Fruktosa           0,82     %
-     Sukrosa            0,24     %
-     Karotin             0,029   %
-     Tiamin              0,117   mg
-     Niasin               3,765   mg
-     Vitamin C         280      mg
b. kandungan gizi pada daun segar rosella merah (analisa dibuat di Guatemala)
- Moisture                86.2%
- Protein                1.7-3.2%
- Fat                         1.1%
- Carbohydrates       10%
- Ash                        1%
- Calcium                 0.18%
- Phosphorus            0.04%
- Iron                       0.0054%
- Malic Acid            1.25%
c. kandungan gizi pada biji rosella merah (Analisa dibuat di Fhilippina)
- Moisture               12.9%
- Protein                   3.29%
- Fatty Oil               16.8%
- Cellulose              16.8%
- Pentosans             15.8%
- Starch                   11.1%
- Amino acids (N = 16 p. 100 According to Busson)*
- Arginine               3.6
- Cystine                 1.3
- Histidine              1.5
- Isoleucine             3.0
- Leucine                 5.0
- Lysine                   3.9
- Methionine            1.0
- Phenylalanine        3.2
- Threonine              3.0
- Tryptophan               -
- Tyrosine                  2.2
- Valine                     3.8
- Aspartic Acid         16.3
- Glutamic Acid         7.2
- Alanine                   3.7
- Glycine                   3.8
- Proline                   5.6
- Serine                   3.5
Secara umum kandungan gizi pada rosella merah (Hibiscus sabdariffa) adalah tiap 100gr mengandung 260-280 mg vitamin C, vitamin D, B1 dan B2. Kandungan vitamin C, 3 kali lipat dari anggur hitam, 9 kali lipat dari jeruk sitrus, 10 kali lipat lebih besar dari buah belimbing. 244,4 mg dan 2,5 kali lipat dibanding vitamin C dalam jambu biji (kelutuk). Produk Rosella kering dari Sumatera Selatan sudah di akreditasi Balai Besar Penelitian Agro Perindag RI (2004) mengandung kalsium tinggi (486 mg/100 gr) dan 7,6 protein .
1.2.4 Manfaat dan Khasiat Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa)
. Secara umum manfaat dan khasiat dari rosella merah (Hibiscus sabdariffa) adalah:
mengandung Gossypetin Anthocyanin dan glukosa Hubiscin yang mempunyai efek diuretic dan choleretic, memperlancar peredaran darah, mencegah tekanan darah tinggi, meningkatkan kinerja usus serta berfungsi sebagai tonik (obat kuat).
Mengandung vitamin C kadar tinggi yang berfungsi untuk meningkatkan daya tahan tubuh manusia terhadap serangan penyakit.
Mengandungan kalsium kadar tinggi yang dapat mengurangi resiko osteoporosis dan membantu pertumbuhan tulang.
mengandung zat flavonoid yang berfungsi sebagai antibiotik pembunuh kuman-kuman penyebab penyakit serta penyaring racun dalam tubuh.
mempunyai efek anti-hipertensi, anti kram otot, anti infeksi bakteri dan membantu proses pencernaan.
membantu mengurangi ketergantungan pada alkohol.
mencegah peradangan pada saluran kencing dan pembentukan batu ginjal.
memperlambat pertumbuhan jamur atau bakteri yang menyebabkan demam tinggi.
Daunnya dapat digunakan sebagai diuretic, penurun suhu dan pereda rasa nyeri.
§ Meningkatkan stamina & daya tahan tubuh
§ Mengurangi kolesterol
§ Mengurangi batuk, sakit tenggorokan, mengobati sariawan, baik untuk semua umur.
§ Membantu pengobatan maag akut(diminum setelah makan)
§ Mengawetkan kehalusan kulit/mengurangi kadar lemak dalam tubuh, cocok untuk program diet dan mengurangi berat badan, melindungi dari infeksik kuman, anti bakteri, virus dan keracunan
§ Membantu menurunkan asam urat, mencegah kanker, baik bagi perokok untuk mengurangi dampak nikotin dan basmi bakteri TBC dan mengurangi ketergantungan narkoba.
§ Bagi anak-anak bermanfaat mempercepat pertumbuhan otak. Karena mengandung Omega 3 dan memacu pertumbuhan DHA.
§ Mengandung 18 asam amino dari 22 jenis yang dibutuhkan tubuh manusia, 2 diantaranya asam esensial (Agrining dan Lysine) yang berfungsi memacu pertumbuhan syaraf dan hormon, berkhasiat menyuburkan dan mempertahankan awet muda
§ Sangat baik bagi ibu hamil karena mengandung  DHA dan OMEGA 3 . Jika dikonsumsi menjelang  melahirkan  dapat terhindar  dari pendarahan .
1.2.5 Produk yang Dapat Dibuat dari Rosella Merah
1. Teh
Teh buah rosella dibuat dari buah bunga rosella yang sudah dikeringkan atau yang masih segar. Tidak perlu membutuhkan peralatan khusus, cara pembuatannya seperti membuat teh biasa. Setelah buah rosella merah dipisahkan dari bijinya dicuci bersih., kemudian memasukkan 3-5 buah bunga rosella merah ke dalam gelas lalu seduh dengan air panas dan jika menginginkan cita rasa asam manis, seduhan buah bunga rosella merah bisa ditambah dengan gula.
2. Sirup
Sirup buah rosella merupakan sirup yang dibuat dari sari daging buah rosella. Dalam pembuatan sirup buah rosella, diperlukan beberapa macam alat dan bahan sebagai berikut:
a. Alat
Alat yang diperlukan meliputi: panci, kompor, botol atau stoples, dan alat pengaduk
b.Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan terdiri atas: daging buah rosella (standar 0,5 kg), gula pasir 1,5 kg, dan air bersih 2 liter.
Pembuatan sirup buah rosella dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut, (1) memetik buah rosella yang cukup tua dengan menggunakan pisau atau gunting pangkas, (2) memisahkan daging buah rosella dari bijinya, kemudian mencuci dan membersihkan daging buah rosella tersebut dari kotoran yang menempel, (3) memasak air hingga mendidih. (4) memasukkan daging buah rosella ke dalam air mendidih tersebut dan merebusnya selama kurang 5 menit hingga air rebusan berwarna merah, (5) menambahkan gula pasir ke dalam rebusan daging buah rosella sambil diaduk-aduk selama 5 menit, (6) Mengangkat sirup buah rosella yang berwarna merah untuk didinginkan selama kurang lebih 10 menit, (7) menyaring sirup buah rosella tersebut dengan kain saring yang halus, (8) memasukkan sirup buah rosella ke dalam botol atau stoples, dan menutupnya dengan rapat. Setelah itu sirup buah rosella siap untuk dikonsumsi atau dijual.
3. Jam/selai
Jam/selai rosella merupakan jam yang dibuat dari daging buah rosella yang dihaluskan. Dalam pembuatannya dapat digunakan ampas sisa dari pembuatan sirup rosella atau buah segarnya.
Dalam pembuatan sirup buah rosella diperlukan beberapa macam alat dan bahan sebagai berikut:
a. Alat
Alat-alat yang diperlukan meliputi: blender, panci, kompor, pengaduk, dan botol atau stoples.
b. Bahan
Bahan-bahan yang diperlukan terdiri atas: daging buah rosella yang merupakan ampas dari pembuatan sirup rosella (standar 1 kg), gula pasir 0,5 kg, dan air bersih 0,5 liter.
Pembuatan jam/selai buah rosella dilakukan melalui tahap-tahap kegiatan sebagai berikut: (1) merebus air hingga mendidih, (2) memasukkan ampas daging buah rosella yang sudah diblender (dihaluskan) ke dalam air yang mendidih, (3) memasukkan gula pasir sambil diaduk-aduk hingga benar-benar rata dan menjadi kental, (4) mengangkat jam buah rosella dari perapian untuk segera didinginkan, (5) memasukkan jam buah rosella tersebut kedalam stoples. Selanjutnya jam/selai rosella siap dikonsumsi atau dijual (Rukmana, 2001:44).
4. Manisan
Pada dasarnya pembuatannya sama dengan membuat jam, hanya saja bahannya tidak perlu dihaluskan dan menggunakan buah segar dari rosella merah sehingga dihasilkan cita rasa yang tinggi.

1.3 Cara Budidaya Tanaman Rosella Merah
1.3.1 Syarat Tumbuh Tanaman Rosella Merah
Rosella merah dapat tumbuh dengan baik apabila lingkungan tempat tumbuhnya memenuhi syarat tumbuh bagi tanaman ini. Keadaan lingkungan yang perlu diperhatikan meliputi iklim, tanah, curah hujan, ketinggian tempat, suhu, dan musim.
Tanaman rosella cukup baik dibudidayakan di daerah tropik dengan ketinggian tempat 0-600 meter dpl. Rosella dapat diusahakan disegala macam tempat, tetapi lebih baik dibudidayakan di tanah liat berpasir yang mengandung humus (Varelina 2004).

1.3.2 Teknik Budidaya Rosella Merah
Perbanyakan tanaman rosella merah biasanya dilakukan secara generatif dengan biji. Tanaman ini berumur kurang dari 1 tahun dengan ketinggian tanaman berkisar 3 m-4 m. Teknik budidaya tanaman rosella merah meliputi kegiatan pokok sebagai berikut:
a.       Persemaian
Sebelum disemaikan, biji direndam selama satu hari satu malam lalu dipilih yang tenggelam dengan bentuk butiran – butiran yang baik. Biji dapat langsung disemaikan pada lahan persemaian yang sudah diolah dan diairi. Setelah tumbuh maka bisa langsung dipindah ke ke polybag ataupun menunggu cukup besar untuk langsung dipindah ke lahan produksi.
b.      Persiapan Lahan
Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan melintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang, lahan dilarik dengan jarak antar larik 1,5 m.
c.       Penanaman
Untuk lahan yang langsung dari biji makan penanaman dilakukan dengan ditugal tiap lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap lubang yang akan ditanami diisi dengan 1-2 bibit.
d.      Pemupukan
Pemupukan pada lahan sebelum tanam dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu setelah tanam dipupuk Urea sebanyak 30-40 gram tiap tanaman.
e.       Hama dan Penyakit
Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang rosella adalah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adalah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida yang dijual bebas di toko-toko pertanian.
f.        Pemeliharaan
Selama pertumbuhan tanaman perlu diwaspadai keberadaan gulma yang akan berdampak negatif, oleh karena itu dilakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi lahan.
g.       Panen
Tanaman rosella mulai menghasilkan bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus dalam jangka waktu 3 bulan sebelum akhirnya diganti dengan bibit baru. Per batang tanaman rosella dapat menghasilkan 1,5 kg bunga basah. Pemanenan menggunakan gunting untuk memotong tangkai bunga, kemudian dilakukan pemisahan biji. Untuk rendemannya dalam bentuk kering 10% sesudah dijemur di bawah terik matahari selama 3-5 hari, yang akhrinya siap digunakan konsumsi pribadi ataupun dikemas untuk tujuan komersial (Tantri 2007).

2. Observasi Tempat Pelaksanaan Progam
Observasi dilakukan untuk melihat kondisi tempat pelaksanaan program secara dekat apakah tempat tersebut mendukung pelaksanaan program yang akan dilaksanakan.

3. Persiapan Alat dan Bahan
3.1 Pada waktu pelaksanaan penyuluhan
a. Peralatan yang diperlukan meliputi: LCD, laptop, kamera, dan sound system.
b. Bahan: Handout tentang budidaya rosella merah di pekarangan rumah.
3.2 Pada waktu pelaksanaan praktek di lapangan
a. Peralatan yang diperlukan meliputi: alat-alat pertanian seperti, cangkul, sabit.
b. Bahan yang diperlukan: penyediaan lahan, bibit rosella yang sudah disemaikan, pupuk kandang, dan urea.
4. Pelaksanaan Program
Program ini dilaksanakan dengan melibatkan berbagai kalangan masyarakat Desa Setonorejo, perangkat desa, dan instansi pertanian yang terkait. Masyarakat desa yang terlibat secara langsunng dipilih dengan jumlah 100 KK (kepala keluarga). Program kegiatan yang dilakukan dibagi menjadi dua program.
4.1 Pelaksanaan Penyuluhan
Penyuluhan merupakan sarana penyampaian informasi kepada masyarakat yang bersangkutan, sebelum dilaksanakan praktek lapangan sehingga penyuluhan merupakan bekal sebelum melakukan aplikasi di lapangan. Penyuluhan ini dilaksanakan satu kali. Penyuluhan ini sebagai sarana penyampaian informasi yang penting mengenai hal-hal berikut:
Pengenalan tentang Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) kepada masyarakat sebagai salah satu species tanaman yang potensial dan berdayaguna serta memiliki manfaat yang penting bagi kehidupan masyarakat terutama dari potensi ekonomi.
Penjelasan mengenai pemanfaatan lahan pekarangan sebagai salah satu program yang penting bagi masyarakat terutama sebagai apotek hidup, pertanian serta perkebunan, yang mampu memberi keuntungan secara ekonomi.
Penjelasan mengenai teknik budidaya Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) yang baik dan benar kepada masyarakat
Dalam penyuluhan ini digunakan metode presentasi secara audio visual, dengan menggunaklan media power point yang akan ditampilkan melalui LCD pada layar. Dalam penyuluhan ini juga mengundang pemateri dari departemen yang berkaitan dengan pertanian sebagai pendamping dalam penjelasan tentang budidaya Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) yang lebih detail kepada masyarakat. Dalam penyuluhan ini peserta akan diberikan makalah atau modul sebagai media penunjang dalam tersampaikannya informasi dengan baik. Penyuluhan ini sebagai sarana bagi masyarakat untuk mengenal berbagai hal yang berkaitan dengan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa).

4.2 Pelaksanaan Praktek di Lapangan
Praktek lapangan merupakan tindak lanjut atau aplikasi secara langsung dari pelaksanaan penyuluhan yang telah dilaksanakan terhadap peserta/masyarakat. Dalam pelaksanaan praktek lapangan ini akan dibagi menjadi dua tahap, meliputi:
Praktek persemaian bibit dari biji Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa)
Persemaian bibit ini dilakukan dalam polybag, persemaian ini dilakukan sehari setelah pelaksanaan penyuluhan sampai kurang lebih satu bulan. Persemaian ini digunakan sebagai sarana dalam mendapatkan bibit yang baik dari biji bunga rosella merah yang telah dipilih untuk digunakan sebagai bibit.
Persemaian dilakukan dalam polybag yang telah diberi media tanah humus dan campuran pupuk kompos dengan perbandingan yang telah ditentukan dengan terlebih dahulu dibasahi atau disiram sebelum biji/benih ditaburkan atau disemaikan. Dalam satu polybag disemaikan 2-3 biji bunga rosella merah yang baik. Perawatan selama persemaian adalah memberi air secara teratur dengan kadar yang sesuai sehingga biji mampu tumbuh dengan baik dan menghasilkan bibit yang unggul.
Praktek penanaman bibit dari biji Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa)
Setelah satu bulan bibit disemaikan kemudian dilakukan pemindahan untuk ditanam langsung dalam lahan pekarangan yang telah ada. Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu dilakukan pengolahan tanah pada lahan pekarangan yang akan digunakan sehingga didapatkan lahan yang baik. Dua hal yang menyebabkan lahan/tanah tetap baik, yaitu (Anonim 1984):
a. Tanah yang gembur (struktur tanah yang baik)
b. Adannya makro dan mikronutien yang tersedia
Oleh karena itu, tanah/lahan yang akan digunakan untuk penanaman rosella merah terlebih dahulu diolah dengan mencangkulnya agar gembur, pengairan yang baik serta penambahan pupuk organik sebagai tambahan sumber nutrien.
Dalam teknik penanaman, bibit dalam satu polybag dapat langsung dipindah ke dalam lahan, terlebih dahulu polybag dihilangkan kemudian baru ditanam dalam lubang. Jarak penanaman antara lubang satu dengan yang lain adalah 1-1,5 meter sehingga intensitas cahaya yang didapatkan cukup.

5. Evaluasi Hasil
Setelah pelaksanaan program maka perlu diadakan pengevaluasian hasil agar dapat diketahui apakah pengenalan budidaya rosella merah sebagai makanan tambahan yang bergizi tinggi dan apotek sesuai dengan yang diharapkan. Pengevaluasian dilakukan dalam penjelasan berikut ini
Evaluasi yang dilakukan meliputi keberhasilan masyarakat yang terlibat sebagai peserta dalam menumbuhkan dsan mengembangkan Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) setelah praktek lapangan dua bulan kemudian. Keberhasilan ini terkait dengan jumlah tumbuh dan berkembangnya tanaman Rosella Merah (Hibiscus sabdariffa) yang telah ditanam melalui praktek lapangan. Maksudnya dari jumlah bibit yang didistribusikan kepada masyarakat/peserta dilakukan pendataan jumlah bunga rosella merah setiap peserta/masyarakat yang berhasil hidup dan tumbuh dengan baik, digunakan sebagai dasar evaluasi hasil yang nantinya digunakan sebagai bahan laporan.

1 Komentar

  1. Saya sangat mendukung program pemberdayaaan masyarakat dengan tanaman pekarangan baik sayur mayur, buah, empon empon/toga dll di seluruh desa desa di Indonesia seperti yang dilakukan di daerah Kediri dengan proyek penanaman Bunga Rosela Merah.
    Hal itu sangat berguna karena bisa memberikan kontribusi pada keluarga baik dalam hal kesejahteraan maupun keasrian lingkungan.

    Memang kandungan zat zat tanaman obat keluarga seperti halnya rosela merah bisa menjadi satu alternatif untuk menjaga kesehatan seperti riboflavin, flavonid dan asam asam amino yang berguna. tetapi menurut pendapat saya manfaat manfat tersebut akan bercampur dengan racun racun kimia yang tidak mudah terurai jika metoda penanaman dan pemeliharaan masih menggunakan bahan bahan kimia. Jadi idealnya penanaman tanaman pangan,tanaman obat keluarga yang dimaksudkan untuk menjaga kesehatan hendaknya bisa diperlakaukan secara organik alias non kimia.,itu baru benar. Marilah kita renungkan bersama sama !!!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.