SISTEM SARAF DAN GERAK FISIlK

Sistem Syaraf

Susunan saraf manusia merupakan bagian tubuh yang paling kompleks dan dibentuk oleh lebih dari 100 juta sel saraf (neuron), dan didukung oleh sel-sel glia yang jumlahnya lebih banyak. Rata-rata setiap neuron memiliki sekurang-kurangnya seribu hubungan dengan neuron lain, membentuk suatu sistem komunikasi yang sangat kompleks.

Neuron mengadakan komunikasi yang cepat antar kelompok-kelompok sel yang diatur secara serial, sehingga memungkinkan penghantaran informasi yang cepat melewati jarak yang jauh.

Neuron tersusun secara berkelompok sebagai sirkuit. Seperti halnya sirkuit elektronik, sirkuit neuron merupakan kombinasi elemen-elemen yang sangat spesifik yang membentuk sistem dengan ukuran dan kompleksitas yang berbeda-beda. Fungsi suatu neuron adalah satu set koordinasi yang bertujuan untuk mencapai tujuan tertentu. Sejumlah sirkuit dasar dapat disatukan untuk membentuk sistem koordinasi yang lebih tinggi; sistem itu dapat bersatu membentuk sistem koordinasi yang lebih tinggi lagi. (Histologi Dasar: 157)

Sel saraf atau neuron adalah satuan anatomis dan fungsional independen dengan ciri morfologis majemuk. Mereka berperan pada penerimaan, penghantaran dan pemrosesan rangsang; pencetus aktivitas sel tertentu; dan pelepas neotrasmiter dan molekul-molekul penyampai lainnya. mereka mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan. Jutaan sel saraf ini membentuk suatu sistem saraf. Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit). Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek. Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls. (Wilkipedia)

Berdasarkan struktur dan fungsinya, sel saraf dapat dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu sel saraf sensori, sel saraf motor, dan sel saraf intermediet (asosiasi).

    1. Sel saraf sensorik.

Fungsi sel saraf sensorik adalah menghantar impuls dari reseptor ke sistem saraf pusat, yaitu otak (ensefalon) dan sumsum belakang (medula spinalis). Ujung akson dari saraf sensori berhubungan dengan saraf asosiasi (intermediet). (Sel saraf sensorik disebut juga dengan sel saraf indra karena berhubungan dengan alat indra

    1. Sel saraf motorik.

Fungsi sel saraf motor adalah mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot atau kelenjar yang hasilnya berupa tanggapan tubuh terhadap rangsangan. Badan sel saraf motor berada di sistem saraf pusat. Dendritnya sangat pendek berhubungan dengan akson saraf asosiasi, sedangkan aksonnya dapat sangat panjang. (Sjifa Amori) Sel saraf motorik disebut juga dengan sel saraf penggerak, karena berhubungan erat dengan otot sebagai alat gerak.

    1. Sel saraf intermediet.

Sel saraf intermediet disebut juga sel saraf asosiasi. Sel ini dapat ditemukan di dalam sistem saraf pusat dan berfungsi menghubungkan sel saraf motor dengan sel saraf sensori atau berhubungan dengan sel saraf lainnya yang ada di dalam sistem saraf pusat. Sel saraf intermediet menerima impuls dari reseptor sensori atau sel saraf asosiasi lainnya. Kelompok-kelompok serabut saraf, akson dan dendrit bergabung dalam satu selubung dan membentuk urat saraf. Sedangkan badan sel saraf berkumpul membentuk ganglion atau simpul saraf.

  1. Mekanisme Kerja Sistem Syaraf

Jalur saraf motorik. Impuls berjalan dari korteks serebri menuju sumsum tulang belakang, melalui jalur-jalur menurun yang disebut traktus serebro spinalis atau traktus piramidalis. Neuron pertama, yaitu neuron motorik atas memiliki badan-badan sel dalam daerah pre-Rolandi pada korteks serebridan serabut-serabutnya berpadu erat pada saat mereka melintas antara nukleus-kaudatus dan lentiformis dalam kapsula interna.

Neuron motorik bawah, yang bermula dalam badan sel dalam kornu anterior sumsum tulang belakang, keluar, lantas masuk akar anterior saraf spinalis, lalu didistribusikan ke periferi dan berakhir dalam organ motorik misalnya otot.

Jalur saraf sensorik. Impuls saraf sensorik bergerak melintasi traktus menaik yang terdiri dari tiga neuron. Yang pertama, atau neuron yang paling tepi, memiliki badan sel dalam ganglion sensorik, pada akar posterior sebuah saraf spinalis lantas dendron yang merupakan sebuah cabangnya bergerak menuju periferi dan berakhir pada satu organ sensorik, misalnya kulit. Sementara axon yang merupakan cabangnya yang lain, masuk ke dalam sumsum tulang belakang, lantas naik menuju kolumna posterior dan berakhir pada sekeliling sebuah nukleus dalam medulla oblongata.

Sel neuron yang kedua timbul dalam nukleus tersebut, kamudian melintasi garis tengah dalam cara yang sama seperti jalur motorik desendens untuk membentuk dekukasio sensorik, naik melalui pons dan dien salafon guna mencapai thalamus.

Neuron yang ketiga dan terakhir, bermula dalam talamus, bergerak melalui kapsula interna untuk mencapai daerah sensorik korteks serebri. Traktus menaik ini menghasilkan impuls sentuhan, kedudukan sendi-sendi dan getaran, sementara yang lainnya menghantarkan impuls sentuhan, rasa sakit dan suhu.

  1. Peran Sistem Piramida dan Ekstra Piramida dalam Periodisasi Latihan Kekuatan untuk Olahraga Dominan kecepatan.

Seperti yang dituliskan oleh Paulus Pesurnay dari Zimmermann dalam beberapa tulisan tentang kemampuan kecepatan terbagi dalam 3 (tiga) komponen, yaitu kemampuan kecepatan gerak maksimal yang dilakukan dalam pola gerak yang sama (siklis) disebut juga dengan terminologi ’speed’, kemampuan kecepatan gerak maksimal dalam pola gerak merubah arah atau sering disebut dengan kemampuan agilitas, dan kemampuan kecepatan gerak maksimal dalam pola reaksi-aksi atau ’action-reaction’ yang biasa disebut dengan quickness.

Yang perlu kita sama-sama pahami dalam praktiknya adalah apakah membutuhkan ’speed’? apakah membutuhkan ’agility’? Apakah membutuhkan ’quickness’ ? apakah membutuhkan ’speed dan agility’? atau membutuhkan ketiganya ? Konsekuensi sebagai pelatih adalah kemampuan untuk menganalisa kebutuhan cabang olahraga sesuai dengan karakteristiknya.

Kita memahami bahwa untuk melatih kecepatan dalam upaya meningkatkan kemampuan ini sangatlah sulit, hanya 10% peningkatan yang terjadi apabila dilakukan latihan secara eksklusif. Hal ini diilustrasikan dengan sulitnya terjadi pemecahan rekor pada nomor dari cabang olahraga terukur seperti contohnya di atletik pada nomor 100 meter, meskipun peningkatannya dibutuhkan 0.01 detik. Hal ini dibutuhkan kecermatan dalam menemukan calon atlet potensial yang sangat berbakat dalam kemampuan kecepatan yang benar-benar herediter (keturunan).

Upaya pelatih yang bisa dilakukan untuk membantu meningkatkan kemampuan kecepatan adalah dengan meningkatkan kemampuan daya tahannya melalui latihan daya tahan anaerob dan latihan kekuatan melalui latihan kekuatan yang cepat (speed strength/power). Akan tetapi untuk mencapai atau menuju pada kemampuan tersebut terlebih dahulu harus menempuh beberapa tahapan (period) yang kita kenal dengan periodisasi biomotorik sehingga masing-masing memberikan dukungan dan saling menunjang pencapaian prestasi.

Dalam hal ini, pelatih (terutama pelatih fisik) harus benar-benar memahami karakter dan kebutuhan dari masing-masing cabang olahraga. Oleh karena itu, pelatih dituntut untuk memahami secara komprehensif tentang latihan berdasarkan kajian disiplin ilmu melatih seperti Fisiologi-Anatomi, Psikologi, Pedagogi, Biomekanika, Statistika, Nutrisi, dan lain sebagainya dalam melatih fisik.

Setiap kemampuan biomotor mempunyai pembagian periodisasi tersendiri sesuai dengan periodisasi latihan. Setiap komponen biomotor harus saling mendukung dan saling menunjang.

Berbicara tentang pelatihan fisik khususnya kekuatan, apabila kita akan melatihnya maka harus mengetahui dan memahami tentang otot-otot dan fungsi gerak dari setiap persendian sehingga dapat memaksimalkan latihan.

Berikut sepintas tentang benang otot. Bahwa benang otot secara anatomi dibedakan atas :

    • Otot polos dan

    • Otot jantung yang bergaris

    • Otot rangka yang juga bergaris otot serat lintang

Perbedaan antara ketiga otot tersebut adalah adalah :

    • Otot polos terdapat di dinding-dinding kelenjar dan dalam usus. Aktivitas otot polos dikendalikan oleh sistem saraf vegetatif, itu sebabnya serabut otot polos tidak bisa diperintah oleh kemauan kita.

    • Otot jantung, adalah bagian dari jantung kita.

    • Otot rangka yang bergaris, adalah susunan otot yang dikendalikan oleh kemauan kita. Otot ini nampak bergaris karena susunan protein kontraktilnya yang tidak teratur.

Protein kontraktil adalah Aktin dan Myosin yang menyebabkan otot tersebut berwarna gelap dan terang. Otot rangka yang bergaris inilah yang menjadi inti bahasan kalau berbicara tentang latihan kekuatan.

Secara umum dapat dikatakan bahwa otot bergaris (serat lintang) adalah otot-otot kekuatan (Isometris), sedangkan otot bulat panjang cenderung menghasilkan kecepatan.

Pada prinsipnya penelitian membedakan 2 tipe serabut otot yakni yang merah dan putih, dan disamping itu ada tipe ketiga yang menjadi antara dari kedua tipe tadi dan memiliki sifat ditengah-tengah antara kedua tipe.

Adanya perbedaan warna pada kedua tipe serabut otot semata-mata disebabkan oleh perbedaan fungsi utama dari kedua tipe serabut otot tadi. Serabut otot dengan isi myoglobin yang lebih banyak berwarna merah penting untuk mendapatkan energi aerob – kedut lambat. Sedangkan otot yang kandungan ATPnya lebih banyak warnanya pucat (putih), syarat penting untuk mendapatkan energi anaerob – kedut cepat.

Serabut otot merah yang lambat itu penting untuk penyediaan energi aerob (karena kandungan myoglobin yang tinggi) sehingga merupakan persyaratan penting untuk kerja yang harus dilakukan untuk waktu lama. Dan serabut otot putih yang cepat merupakan syarat optimal untuk penyediaan energi anaerob (Penyediaan energi anaerob terjadi dengan kecepatan yang berbeda-beda, walaupun juga tergantung dari bawaan – bakat).

Cara kerja otot pada praktiknya jarang sekali berkontraksi secara murni (misalnya hanya isotonis yang berarti terjadi perubahan panjang otot, atau hanya Isometris berarti hanya terjadi perubahan ketegangan otot tanpa perubahan panjang otot). Kebanyakan gerakan dalam olahraga menuntut bentuk-bentuk kontraksi gabungan (terutama kontraksi auxotonis), artinya terjadi perubahan panjang maupun tegangan otot), demikian pula cara kerja otot bisa dinamis dan statis. Cara kerja otot dinamis biasanya singkat dan cepat (bisa juga berlangsung lama), sedangkan kerja otot statis yaitu kemampuan menahan yang bisa berlangsung singkat maupun lama.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s